Melihat Bagaimana Cara Tuhan Menilai
Hari itu jum’at, awal bulan Mei. Pastilah waktu siang terik aku tergopoh-gopoh untuk pergi, barang sesaat untuk salat jumat saat itu. Cuacanya memang sangat akrab dengan matahari, debu dan angin. Logis memang dengan banyaknya pabrik-pabrik. Aku berada pada shaf agak belakang, sebatas paling depan dari batas suci untuk sandal di mesjid itu.
Aku duduk, dan khutbah dimulai. Khotibnya masih muda dengan peci hitam dan sorban putih dilingkar lehernya. Dengan suara yang lantang dan berapi-api dengan bijak berwashiyat untuk ketakwaan, itu rukun memang. Tema dimulai dengan sedikit menceritakan tentang problema masyarakat dan manusia pada umumnya.
Lalu dari setiap perbuatan manusia beliau analogikan dengan sebuah titik. Dari sebuah titik itu, mulai membuat garis lurus. Lalu ditengah-tengah garis lurus mau tak mau harus membuat simpangan, simpangan dua buah garis yang bertolak belakang, satu menuju kesisi sebelah satu lagi ke sisi sebelah yang lain. Ujung sisi itu lalu kembali bertemu pada suatu titik dan meneruskan membuat garis lurus hingga sampai pada suatu titik yang memberhentikannya.
“Sahabat sekalian tahu maksudnya?” Tanya sang khatib muda itu. Dengan sederhana beliau menjelaskan, ”Setiap kita berbuat sesuatu niscaya ada niat dan tujuan. Titik itu adalah awal, niat manusia, proposal permohonan kepada Tuhannya. Dari sebuah titik tersebut dibuat garis, itu adalah sebuah usaha awal, modal dalam melakukan tindakan. Sementara simpangan yang terbagi dua adalah sebuah proses panjang dalam pemikiran untuk memilih ketika problema mulai muncul. Satu garis menuju sisi sebelah dan satu garis lagi menuju sisi yang lain.” Beliau berhenti sejenak. “Sahabat tahu satu sisi ini kemana? dan sisi yang lain ini kemana?” Tanya beliau lagi.
“Kita bisa bagi kedua sisi ini menjadi pilihan kita menghadapi problema, satu sisi sebelah kita memilih menyelesaikan problema dengan jujur, bijak, faktual, dan tawakal . Sementara sisi yang lain kita memilih menyelesaikannya dengan kebohongan, licik, jahil, dan egois”. Tuturnya. “Dari kedua sisi ini niscaya bertemu pada suatu titik, dimana titik itu berlanjut membuat garis hingga berhenti. Hal satu ini bisa dijelaskan dengan mudah. Dari jalan yang kita pilih untuk menyelesaikan problema pada akhirnya menemui satu tujuan dan hasil.” Lanjutnya.
“Sahabat sekalian tahu tujuan dan hasil itu?” Tanya beliau lagi. “Semata-mata tujuan dan hasil itu beda. Kenapa? Karena hasil belum tentu sesuai dengan tujuan. Kadang kala tujuan yang hendak kita capai tidak sesuai dengan hasil yang diraih.”
“Lalu apakah Allah menilai sesuatu dari hasil? Semata-mata Tidak!! Allah maha melihat dari kita memulai titik, membuat garis, menentukan simpangan dan membuat titik akhir garis.” Tutur beliau. “Lalu bagaimana manusia melihat? Mereka melihat sebatas Titik!! Titik mula dan Titik akhir!!.
“Dari situ maka setiap manusia kadang kurang mengapresiasi setiap perbuatan sesamanya, mereka hanya menilai sesuatu dari niat dan hasil, selebihnya adalah prasangka-prasangka. Karena mereka Tidak melihat pembuatan garis dan simpangan itu. Sebaliknya Allah akan menilai setiap proses kita. Dari mulai niat, usaha, dan hasil. Sekecil-kecilpun tak pernah luput. Dari kita membuat titik, garis, simpangan dan titik lagi.”
“Maka akan lebih bijak dan cerdas kita sebagai sesama lebih peka dan apresiatif terhadap hasil karya perbuatan sesama. Dan kita jangan pernah putus asa dari sesuatu hasil yang tak setujuan. Karena kita harus melihat bagaimana cara Allah menilai, bukan bagaimana cara manusia menilai.” Tutup beliau.
Maka dari situ aku duduk sejenak dipelataran mesjid. Di terik dan debunya matahari, ditengah-tengah hiruk pikuk pegawai-pegawai pabrik. Bahwa mulai hari ini kita harus melihat bagaimana cara Tuhan menilai.
Bekasi, Mei 2011



Belum ada trackback.