Feeds:
Tulisan
Komentar

think !!


Hidup tak sesederhana yang kita bayangkan kawan.. tapi tak sesulit pula yang kita pikirkan. Masih saja terpikir Hidup adalah runtutan peristiwa, sequel sebuah misteri pragmatis. Yang ditiap detiknya tersimpan sejuta lakon kejutan-kejutan yang tak terkirakan.

‘Hidup tak lebih apa yang kita pikirkan.. life’s no more than what we think about.. ’

Entah dari mana aku dapat kalimat ini, tapi dalam untuk dimaknai tentang tuntunan-tuntunan kita berpijak. Kawan… pikiran menuntut kita berjuang lebih-lebih menguras tiap energi-energi dan semangat-semangat yang dihimpun dalam tiap-tiap daya. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Hingga itu pula kita tuna untuk menyadari tiap purna kejadian yang terlewati adalah implikasi tiap apa yang kita pikirkan dan perlakukan.

‘Positive impact’

kawan… berapa tahun kita berdiri diatas pijakan dunia. Berapa kali tiap kejadian yang terlewati adalah konektivitas berkelanjutan yang saling berkaitan pada rantai peristiwa pencarian jati diri, – semoga masih tetap diberi kesempatan -, dalam selang mata rantai waktu yang berjalan diluar nalar. Dan biarkan mata rantai waktu itu yang menepatkan tiap langkah-langkah kita yang terlewati.

‘Think, no action is nothing’

Berpikir positif, lakukan yang terbaik dan lihat apa yang terjadi.

‘So, The World is not only in your hand but also in your mind ’, :-)

*********

Maka tuntunkan kami ya Rab.. tetap dalam jalan sirattal mustaqim untuk tiap-tiap waktu yang dilalui dari sebuah pagi yang menjelang naik.

Maka kuatkan kami ya Rabb..  sedalam-dalam usaha untuk tiap siang yang berganti sore.

Maka tenangkan kami ya Rabb..  istiqomah dalam malam-malam yang menggulita.

Rab… jangan sampaikan kami sebagai orang yang terlambat bersyukur, terlambat bahagia, terlambat dewasa, terlambat menyadari atau yang terlambat bermimpi. walau memang semuanya sudah tertuliskan pada lahul mahfuz.

Tak dapat sepenggal kata pun menjulur rangkai di tiap suara gema lidah ini..

Tak banyak pula terdengar lamunan kisah lanskap masa sejengkal lalu..

Maka tak layak ku gambarkan sebuah pesan-pesan, petuah-petuah , bijak-bijak yang ditiap rangkainya banyak nian siratan-siratan..

Tapi setitik ku hanya bertulis untuk sebuah bunga violet kecil yang seakan berkelip diujung kelopak-kelopak mungilnya..

Menangkap pencahayaan pagi disetiap hari-hari yang dilalui, untuk sebuah masa dimana ia ditumbuhkan..

Jangan hiraukan apapun yang membawamu , walau angin yang menghempaskan jauh ke dalam  tanah-tanah dimana kau kini..

Jangan pikirkan apapun yang  merisaukanmu, walau itu menjadi kultivasi kenyataan yang tak terdugakan..

Sambut setiap sinaran matahari dalam tiap mekar tumbuh planar kelopak ungu mu, untuk buktikan pada masa dimana nanti diperjumpakan..

See yourself… And Be yourself,  Glory Lilac.

image from here

sehari panas ini..

Sekitar pukul 9 pagi ini jam hitam dalam lingkaran tangan menunjukan pelan jarum kecilnya lewat mataku. Masih saja aku seperti yang dulu, malas untuk bisa tepat sebagaimana janjiku pada waktu. Kali ini aku harus beranjak ke kota seberang menelusuri terik panas matahari yang entah semenjak pagi tadi sudah tak biasanya sebenderang terang seperti ini. Walau memang rasanya tak asing dengan keadaan cuaca seperti ini tiap harinya. Maklum memang suatu daerah yang berada didataran rendah hampir diujung batas demarkasi provinsi Jawa Barat sebelah timur.

Seminggu kemarin aku menyela hari-hari di kampus untuk pulang dan bertemu keluarga di rumah. Tak biasa memang perjalanan pulang sekarang ini. Semalam ibu bertelepon dan mengabarkan keadaan ayah tentang kesehatannya.

Begini Ceritanya kawan…

Aku coba mengayuh selahan kaki mesin motor biru itu untuk ku mulai pembakaran pra-kinetik sekuat-kuat daya. Pagi ini ku harus bergegas beranjak dari peraduan untuk kuboncengi ayah recheck-up kakinya yang agak terganggu. Sejam lebih ku lalui tiap susur jalan raya pantura walau harus berbagi jalan dengan truk-truk yang kalau di ukur bannya saja sudah setinggi ujung kepalaku. Ini pertama kalinya aku mengantar beliau ke rumah sakit. Jujur saja sekali ini aku tak pernah melihat ayah sebegitu sakit hingga harus mengantarnya berobat. Beliau vegetarian yang begitu sangat suka lalaban dan sambal, tipikal orang sunda sekali. Jarang merokok, walau hari-hari ini ku melihatnya sesekali menghisap tembakau. Itulah mungkin yang menjadi asumsi ku yang sekira-kira dapat menjelaskan kealpaan beliau jatuh sakit. Tapi dengan perawakannya yang gempal dan kerja banting tulangnya, sendi bagian lumbal, itulah kata dokter syaraf yang ku temui menjelaskan terang dengan hasil rontgen-an yang dibawa, mengalami dislokasi yang membuat pembuluh darah mengalami penyempitan.

Yak.. seminggu ini ayah terlihat jalan dengan kaki terseret. Tak pernah sekalipun ayah memberitahu sakitnya.  Tatkala ditanya ibupun, ia hanya bilang, “Tak apa.. hanya sedikit linu saja, di urut sedikit nanti juga mendingan”. Begitulah ayah tak pernah sesekalipun mengeluh dan membuat keluarga khawatir. Tapi selama seminggu itu fakta tidak bisa ditolerir, ibu tak bisa diam dan memaksa membawanya ke Dokter syaraf. Setelah dua harinya, kali ini giliran ku yang kedua membawanya kesana.

Disana ku menunggu antrian walau tak sebanyak jejalan di poliklinik umum, bersesak-sesak, berjubel-jubel, menunggu duduk diruang bertuliskan ‘harap tenang dan dilarang merokok’ itu. Saat tahap giliran tiba, ku banyak bertukar pikiran dengan dokter mengenai penyakit ayah. Banyak nian yang harus dihindari, semua hal yang terlalu menumpukkan beban pada kaki harus dihindari katanya, terlalu capek harus dihindari katanya, banyak jalan harus dihindari katanya. Begitulah mungkin titah dokter dengan catatan resep yang diberikannya. Hanya beberapa menit tidak sampai hitungan jam ku harus pergi pulang dan sekali lagi harus menyusuri jalan yang termuai oleh teriknya panas matahari.

Dalam perjalanan, terpikir sejenak dalam benak, betapa dulu sewaktu TK hingga beranjak SD ku senang alang kepalang bila diboncengi ayah naik motor. Ku duduk dibelakang dan memegangi perut ayah yang buncit dan hangat, sampai tidak terasa tertidur di punggung belakang nya. Sesekali ikut bolak balik menjemput ibu di tempat kerjanya, sungguh adalah perjalanan yang sangat berkesan. Ayah yang selalu terlihat kuat dan tegar akan selalu ada sisi lembut dan hangat untuk putra-putra manjanya.

Dan sekarang kini aku yang memboncengi walau dengan cerita yang tidak mengesankan. Tapi dari situ aku sadar tak banyak ku luangkan waktu dengan nya sehari-hari lampau, maka biar hari ini ku singkirkan semua ego ku, biar hari ini ku enyahkan kuliah-kuliah ku, untuk bisa duduk sebangku motor walau dengan terik panas matahari diujung seberang kota.

Dasawarsa ke Dua

ibu

Tertahan lelahan mata ini mengontemplasi raut wajah seberapa nama perempuan. Sesosok-sosok maha guru padepokan penggugu segala bentuk pondasi pengukuhan orientasi hidup di jalan setapak-tapak ini semenjak tangis pertama itu. Sesosok-sosok “Siti Hajar” yang berlari dari sebuah bukit “safa” kehidupan menuju “marwa” demi setetes air.

Linang air mata mu Bu.. walau aku tak sempat melihat, terurai jelas dari kelopak-kelopak bening selaput retina mu, tergurat jelas dikantung bola mata yang memburam. Mungkin selama berpuluh-puluh tahun hingga sejuta kali tetesan itu terurai bagai bentuk konsekuensi perjuangan hidup yang terintis sejak kecil.

Lelah badan mu Bu.. walau engkau tak pertunjukkan, tampak dari embun yang menyingsing hingga gelap yang menggulita merumpun sepi menyapa tiap pekerjaan yang engkau penuhi amanah-amanah nya. Sebuah dedikasi tulus pemegang teguh makna kerja keras itu yang engkau tunjukkan dihadapan kami anak-anak mu.

Letih jiwa mu Bu.. walau engkau terlihat tegar, tercermin dari setiap malammu yang diselangi qira’at-qira’at lantunan ayat-ayat dan sepi menyendiri dalam ucapan salat malam.

Bu.. Telah ternisbatkan dalam diri ini bagaimana engkau menjalani hidup-hidup berdua bersama nenek. Melampaui segala kerikil-kerikil kesulitan, duri perih penghujam, sayatan luka batin dan semua yang membuat kami ini tertegun Bu. Tapi engkau kuat setegar karang, keras menghalau badai deraian, tetap terus bertahan hingga sampai sekarang.

Disini.. Malu aku Bu..  aku tak bisa sesemangat mu, yang ditiap awal hari engkau sudah menempa peluh, menggurat asa, yang tak bisa tertahan walau selalu menguras keringatmu, mengikis pikiranmu. Tapi selalu tetap berkenan mendengar kami putra-putra manjamu yang cengeng.

Bu.. tapi selalu ku tanamkan dalam diri, tuturkan dalam perilaku, tingkahkan dalam hari, empat kata pondasi untuk hidup. Seperti apa yang nenek selalu dengungkan sebelumnya kepada engkau Bu.. “Jujur, Ikhlas, Sabar, Syukur”.

Sejauh aku berpijak di tanah-tanah ini, telah dipersaksikan perjuangan engkau dan nenek, Bu. Sebagai perempuan-perempuan yang aku banggakan, maha guru peraduan di setiap konstelasi-konstelasi asa ku yang memudar.

Tahu kah engkau kawan… Dari beliau-beliau aku diajarkan setitik perjuangan mengaisi  setiap semangat-semangat yang kupulung satu-persatu di setiap langkah kaki-kaki kasar ini.  Banyak sekali ilmu-ilmu penghidupan yang terceritakan dari tiap hari-hari yang terlewati di teras rumah itu. Dan dari dua dasawarsa ini ku tetap masih mengukuhkan diri sebagai mahasiswa padepokan penggugu pondasi orientasi hidup.

Dan di setiap langkah-langkah jalanku yang kucoba rintis, aku tahu Bu, engkau selalu berdoa demi kebaikanku disetiap malam. Tapi Bu.., ingin rasanya ku tahu bagaimana dengan doa mu untuk jodoh ku.. Bu?

Confession

Happy Ied

Rabb…  Dari sisi lain hati yang terkutuk-kutuk ini untuk kumunajatkan sebuah pesan keinginan ceritera kelam sehasta kemarin. Kejar benar aku cari-cari dunia hingga ku tak sempat menjemput bekal hari-hari nanti.  Layak benar aku berdiri diatas pijakan-pijakan ini hingga ku tak sempat berdiri berdekap lengan untuk terus berucap sirattal mustaqiim.

Pada detik kesempatan yang dinisbatkan, syukur ku gubah kan untuk tiap-tiap masa atas kecukupan nikmat dari setiap nafas yang terhembus dan langkah yang berjalan. Semoga di setiap gumpal eritrosit dalam pembuluh-pembuluh ini tertuliskan sajak kebanggaan atas karunia semesta yang Engkau tunjukan sebenar-benarnya. Dalam tiap diri-diri jasad usang ini mengimani Engkau atas rangkaian masa waktu yang  berjalan misterius dengan cara-cara yang diluar nalar pemahaman kami-kami ini.

Tiada lah sebuah gandum untuk tiap diri-diri pencaharian kehidupan hanya dengan sedetik waktu untuk bernas. Tiada lah sebuah kepompong bagi tiap jasad-jasad musafir dunia hanya dengan sedikit masa untuk terbang.

Pada tiap diri-diri yang tunduk pada nafas hasrat nafsu. Disana satu tetes dua tinta maghfirah seluas semesta, bertambat. Maka dalam masa ini ku ulurkan tangan tulus demi sebuah maaf atas khilaf-khilaf yang terus merundung semayam ditiap-tiap indera ini.

Taqabalallahu minna waminkum… untuk sahabat-sahabat.

Happy Ied 1430 H.

accidentally in luck..

Sekolah

Ingin sekali ku bagi sebuah kisah kecil. Kisah pengalaman yang banyak memberikan pelajaran. Ku ambil sebuah ingatan dari dalam sangkar saraf ini untuk bisa di tilik lebih rinci agar mudah dibagi dan didengar.

Senja hari sejam sebelum lonceng SD mulai memecah udara panas, Ibu kepsek datang dengan genggaman tangan yang sedikit ganjil. Memegang sesuatu yang sangat-sangat asing bagi seorang anak pelosok yang jauh dari peradaban. Dipampangkan diatas meja, didepan mata anak-anak sekelas. Sebuah benda berwarna emas dengan pegangan segiempat gelap lurus berdiri tegak. Terlihat tulisan di bawah nya “Juara III Lomba Mengarang Tingkat Kecamatan”.

Mungkin dari dulu aku ini satu dari sekian orang yang merasa piala adalah benda antik dan sakral hingga melihat nya saja serasa merinding. Dua menit benda itu berdiri tegak diatas sebuah meja kecil.  Benar saja hanya orang-orang sekeliling ku yang banyak mengeluarkan kalimat-kalimat yang entah aku benar-benar mendengarkannya atau tidak. Tapi tetap saja benda itu membuat ku diam kaku tak berkutik.

Ku coba menggubah kembali bagaimana benda itu bisa ada di tengah-tengah kami.  Tepat sebulan yang lalu kuikuti sebuah ajang yang dulu dipanggil porseni antar sekolah dasar.  Ku ikuti tahap-tahap regional rayon yang mungkin tanpa disadari waktu seorang ibu guru menunjuk ku sehari sebelum ajang itu dimulai. Alamak.. mendadak melongok tekejut, bisaku apa, menyelesaikan carpon pandawa bahasa sunda saja susahnya minta ampun sampai ku tanya-tanya ayah ku yang tahu betul kisah-kisah pewayangan.

Semalaman ku hanya semedi mencari wangsit di kamar yang penuh dengan poster-poster bola berharap petuah datang dari para maestro-maestro alam gaib penghuni kamar. Huh, dasar pikiranku yang dirasuki demam lomba, mengharap sesuatu hebat terjadi esok pagi. Ah.. Mudah-mudahan saja tiba-tiba porseni di undur, agar ku lebih siap tanya sana sini untuk apa yang mau dituliskan pada secarik lembar kertas dengan cap rayon itu. Ah.. mudah-mudahan saja tiba-tiba badanku demam, agar ku bisa ada alasan untuk tidak bisa mengikuti lomba itu karena sungguh ku tak lancar memikirkan sesuatu dan menuliskannya cepat-cepat dengan perbendaharaan kata yang ku tahu sedikit sekali. Ah.. mudah-mudahan saja tiba-tiba ada temanku yang rela menggantikanku karena menurutnya dia lebih lancar dalam hal tulis menulis. Tapi hari itu aku mungkin sial atau mungkin maestro-maestro alam gaib penghuni kamar ku pergi karena mendengar  lantunan qira’at yang selalu Ibu perdengarkan setiap malam jumat. Tak ada harapan dalam benaku yang semalam ku pikirkan terwujud. Aku resmi sebagai duta sekolahku untuk mengikuti ajang itu, walau dengan sedikit pesimis.

Tahap pertama, penseleksian untuk duta rayon selatan sebagai perwakilan nanti di kecamatan.  Dengan sedikit dukungan percaya diri, berangkat ku membawa sedikit bekal ilmu hanya untuk menuliskan sesuatu pada kertas polio bergaris nanti. Yah, pasrah saja. Terbalik memang, Apa yang dulu pernah diajarkan ustadz kepadaku tentang bagaimana kita menyikapi masalah, usaha, doa, tawakal a.k.a pasrah. Aku membalik urutan itu semena-mena, doa, walau dengan doa yang mengada-ada, pasrah, aku tak ingin menyebutnya tawakal karena malu, usaha, peristiwa yang sebentar lagi ku jalani. At least, tiba saat ku mulai memusingkan kepalaku untuk mencari kata-kata indah untuk bisa membahagiakan para juri yang menilai. Ada menu tema didepan papan tulis yang disediakan untuk dipilih buat makanan pagi. Ku liriki sebagian tema yang paling mudah untuk ku berikan pada otakku agar ia bisa bekerja sama dengan tangan yang semenjak tadi hanya kusilangkan diatas meja. Wah-wah.. cepat sekali orang yang ada dikanan-kiriku didepan-belakangku mengotori kertas polio itu. Sementara ku satu titik saja belum nempel. Ku ingat bulan itu adalah Agustus, yah.. ku tuliskan saja sebuah pengalamanku melihat kemeriahan perayaan 17-an yang selalu diadakan dikampungku sampai dua hari dua malam. Ku tuliskan saja ketika orang-orang dengan bertelanjang dada saling pungguk memungguk batang bambu besar dengan lumuran stemplet dari ujung tanah sampai ujung atas. Ku tuliskan saja ketika orang-orang dengan beribu macam hiasan sepeda berlalu santai dengan manik-manik merah dan putih. Ku tuliskan saja sepuluh bapak-bapak berbalut rok ibu-ibu bermain bola dengan perut-perut buncitnya. Maka kuambil tema yang paling-paling-paling mudah biar nggak ruwet ngejelimet.

Seminggu setelah itu kabar dari rayon itu muncul. Seorang bapak-bapak dengan memakai kopiah hitam ciri khas nya datang untuk memberi jabatan baru pada ku. Sekarang aku resmi naik pangkat setingkat jadi duta rayon selatan. Alamaaak… Tak dinyana doa jeleku kemarin benar-benar ngedrift 180′.  Tulisan asal ku dianggap bak sajak pujangga yang dipuja-puja bagi para juri. Namun tugas kali ini cukup ada waktu buat bekal nanti dikecamatan. Setiap malam sejenak kuluangkan waktu makan, tidur dan main ku untuk mencoba berlatih menulis, practice makes perfect, tulisan kecil di tiap bawah halaman buku sinar dunia melecuti ku. Ku coba menerka-nerka tema apa yang pasti muncul nanti di hari H nya. Sok tahu ku memuncak menjadi-jadi menuntun jari-jari tangan ini meruntun kata demi kata yang mula hanya prakiraan belum sampai pada perkiraan dan probabibilitas. Waktu, kata, alur, hubungan paragraf ku hitung benar sampai sedetail-detail nya.

H-1, coba kembali membaca hasil karangan prakiraan yang kalau dibaca-baca cukup bagus juga kalau-kalau benar tema untuk karangan lomba nanti ekuivalen dengan tema hasil karangan prakiraanku.  Sedari itu ku lagi-lagi semena-mena mengubah urutan penyikapan masalah yang di ajarkan ustadz kepadaku. Mudah-mudahan tema nanti benar-benar ekuivalen pintaku. Namun kali ini ada additional advice semilir di pikiranku yang entah datang darimana. Mungkin maestro-maestro penghuni alam gaib kamarku mulai berembuk untuk bisa memberi masukan yang tak masuk akal. Sepenggal saran itu ada di atas ubun-ubun, “Bawa saja secarik lembar karangan prakiraanmu kalau-kalau sesuai dengan tema-nya biar nanti kau tinggal buka dan menyalinnya”.  Ku pertimbangkan sejenak dan ku taruh secarik karangan prakiraanku di lemari untuk nanti kuputuskan esok pagi di hari H.

Tahap selanjutnya, ku pergi ke balai kecamatan yang bersampingan dengan sebuah sekolah dasar dan lapangan sepak bola didepannya. Sekali lagi mental ku seperti biasanya selayak tahap pertama di rayon selatan. Tapi ada 2 hal yang menjadi kejanggalan disana, ku lihat kanan-kiri depan-belakang, semua peserta perempuan, hanya aku dan seorang yang berada dua bangku disamping kanan ku yang bergenre beda. Sementara satu hal yang menjadi runtut perhatian dari tadi, sebuah kalimat yang tak asing lagi, sepenggal kalimat tema yang masya Allah benar-benar ekuivalen dengan prakiraanku. Dari situ ada sedikit rasa sesal yang ditanamkan setan dari semenjak H-1 kemarin, secarik kertas karangan prakiraanku tak ku bawa karena lupa. Entah mungkin karena pagi tadi maestro-maestro alam gaib penghuni kamarku masih tertidur dan lupa mengingatkanku akan rencana tak masuk akalnya. Entah mungkin Karena ingatan yang ditanamkan para maestro itu semalam terputus dari saraf neuron karena salat ku, subuh tadi. Entah mungkin karena satu kata yang orang sering banyak menyebutnya, takdir, yang mengharuskanku tidak berbuat diluar batas. Maka ku andalkan setumpuk kemampuan saraf-saraf ku untuk membuka kembali memori ingatan karangan prakiraanku. Dan kuandalkan segenap jiwa dan raga karena kesempatan yang telah di berikan sang kuasa untuk kembali mengasah bakat yang lain kepadaku.

Tak lama kabar kembali muncul dan pangkat satu tingkat disematkan lagi kepadaku. Namun kali ini walau dengan kepercayaan diri yang lebih, ada sedikit ganjalan yang sedari awal memuncak di kepala. Seakan ingin tertawa tentang laga coret menyoret sewaktu itu, posisi satu-dua dipegang perempuan dan hanya ku yang bisa ada di podium ketiga. Hmm, seakan mungkin hanya bertarung berdua dengan orang yang duduk dua bangku di sebelah kananku. Karena duta hari ini memberikan opsi sepasang laki dan perempuan sebagai wakil dari kecamatan untuk kabupaten. Tapi toh, benda sakral itu  sekarang sudah ada dilemari kecil menemani satu jenis nya yang sudah ada sejak dulu dengan ajang yang berbeda walau kedua-duanya bertuliskan III (tiga).

*****

Dari satu tetes pengalaman masa kecil ini ada sedikit gambaran besar tentang arti apa itu takdir. Sejauh apapun kita bisa mengubah dan  mencoba melakukan sesuatu sekehendak hati. Setiap dari itu tak ada yang menyangka sesuatu berbeda dalam akhirnya.  Meskipun frasa kebetulan dan keberuntungan, Kesengajaan dan kesialan tetap selalu terucap. Tapi dari setiap usaha yang dilakukan tak ada yang dikatakan kebetulan dan keberuntungan atau kesengajaan dan kesialan. Untuk setiap urutan penyikapan masalah yang diajarkan, usaha, doa dan tawakal, epilognya telah ditentukan oleh tangan sang kuasa.

selebrasi extrapolasi..

56832224_0df11a9167

Teringat kembali sebuah kisah kecil seorang manusia. Kisah sebuah spermatozoid dari sejuta saingan yang beruntung bisa menemukan sebuah indung telur dalam sebuah konsepsi untuk kehidupan. Kisah persenyawaan kromosom dari kedua sel yang menentukan sifat watak si janin. Kisah sepasang kromosom X dan Y spermatozoid yang bersaing untuk menentukan  jenis kelamin si janin. Ternyata kawan…  kita dibentuk dari sebuah persaingan, kita dibentuk dari sebuah perjuangan.

Dan dari situ mungkin tak terbayang raga dan jiwa ini terbentuk selama 16 minggu dalam ruang hangat rahim. Hingga sungguh tak disangka tatkala 266 hari lama nya mata ini sulit terbuka untuk melihat arti hidup sebenarnya, mendadak hingar bingar dengan tangisan jerit merantau menyongsong .  Dari situ selebrasi dimulai dan diperdengarkan kalimat-kalimat khidmat Sang Maha Kuasa untuk tunduk tulus dan bijak berjalan di bumi ini. Dari situ kita mulai merangkak tahap demi tahap untuk mulai berdiri tegak. Melongok otodidak mencari tuntunan bijak semesta dalam sebuah perkamen-perkamen kehidupan.

Sedari itu siapapun adalah lembaran-lembaran kertas putih kosong tanpa noda. Lembaran dengan sebuah elegi kehidupan yang hendak menari-nari demi goresan tinta sedikit. Semenjak itu kita dihadapkan pada sebuah dinding-dinding masalah kehidupan dengan sedikit sekat kecil yang tak tampak. Kawan… Tersadar benar kita perjuangkan segala sesuatu dari hal mustahil sekalipun demi tegak kokohnya tangga pencapaian mimpi yang digantung diujung-ujung langit ke tujuh itu. Terjaga benar kita melewati detik demi detik waktu yang tak kunjung henti demi mengisi lembaran-lembaran kertas putih kosong itu dengan warna yang indah seindah-indahnya.

Kawan… Tak terhitung gerangan sampai sejauh mana kita melihat dinding masalah. Tak terkira gerangan sampai sejauh mana kita belajar meruntuhkan dinding masalah. Tak terperi gerangan sampai sejauh mana kita melewati dinding masalah dan melewatkannya dibelakang. Toh ternyata kita masih berdiri tegak dan dinding-dinding itu masih tetap ada di setiap mil jalan dari langkah-langkah kaki yang tidak tahu sampai kapan bisa kokoh menopang. Namun dari situ kita telah bisa menyibak warna-warna yang dipilah untuk bisa digoreskan pada mushaf-mushaf yang dipertanggungjawabkan kelak. Namun dari situ kita bisa senyum, tertawa, pada dinding-dinding yang roboh itu tentang suatu hal.

ikhlas

Sejenak jejakan langkah ini mampir di sebuah dudukan kecil seorang uzur. Lelah lengap bertanya tentang seorang tua yang terlihat masih teguh kukuh di bawah terik matahari. Seragamnya yang berwarna kuning jeruk luluh lesu dengan keringat-keringat badannya. Sekejap ia ada disamping dengan senyum yang tak kunjung padam. Sapu tangannya yang usang membilas cucuran keringat basahnya yang legam.

Ingin rasanya ku tahu isi dalam hatinya. Ketika terik perih matahari membuat lebar senyumnya. Ingin rasanya ku tahu isi dalam hatinya. Ketika hanya kepingan logam kecil mengisi saku besarnya. Ingin rasanya ku tahu isi dalam hatinya. Ketika badannya sudah tak sekuat semangatnya.

Perlahan ia mengatur deretan itu dengan seteratur-aturnya, seteratur konstelasi semesta yang ditiap detiknya dalam genggaman sang Kuasa. Lama seorang tetua ini berpapasan tatkala kutitipkan penuntun beroda untuk kaki-kaki malas ini. Ketika ku perhatikan ia berjalan menghampiri, duduk, dan tersenyum. Untuk sejenak dalam penatnya ku dapat bertukar kata dengannya. Dengan sedikit kata yang keluar ia alunkan obrolan singkat di tengah-tengah waktu banting tulangnya.

Ia bercerita sejenak tentang kisahnya yang tak pernah terkeluh. Namun dalam lantunannya ia bumbui dengan senyumnya yang tulus.

Dari sana satu deretan kata yang masih terngiang lewat dalam telinga ini, masih terasa tergumpal dalam darah ini, masih terasa terdenyut dalam membran kardiaks ini.

“Semua ini hanya titipan. Saya hanya menjaga dan ketika si Pemilliknya hendak mengambil maka saya serahkan sepenuhnya tanpa berharap untuk balasan”

Ucapnya

******

Mozaik-mozaik kehidupan itu tengah disatukan. Dan dari seorang Ikhlas ini ku dituntun tuk mencari kepingannya yang terpisah.

peraduan…

real-alone

Tak kuat nian ku rajut semangat itu sendirian.. Berat sangat ku satukan mozaik-mozaik kehidupan yang ditiap kepingannya selalu berisikan lekukan-lekukan tajam. Susah benar asa-asa itu tersulam indah melingkar menemani langkah-langkah.. Sungguh tak kuat nian ku rajut semangat itu sendirian..

Ingin rasanya kembali ke peraduan itu.. dimana senyum membagi rata tangis di tiap jumpanya..

Ingin rasanya kembali ke peraduan itu.. ketika konstelasi-konstelasi asa tersusun  indah ..

Ingin rasanya kembali ke peraduan itu..  tatkala riak waktu mengadu berkeluh kesah..

Tapi ini adalah jalan yang terbagi pada sebuah titian-titian yang berkelok…  remang-remang dengan setitik cahaya kecil yang tampak kejauhan.. dengan kaki tanpa alas menyusur semua rongga-rongga bahu jalan tapak demi tapak..

Tapi saat itu ku singgahi kembali peraduan itu… meminta sebuah bekal asa yang mungkin tertinggal..

Saat kembali jejakkan kaki-kaki kasar ini.. orasi singkat itu harus dilafazkan:

Benamkan.., kubur malas itu dalam-dalam..!!

Enyahkan.., buang sampah pesimis  itu jauh-jauh..!!

reflection..

sajadah

Sungguh di setengah pagi ini kusisipkan sebuah cerita, sebuah sujud tulus ku tundukkan diatas sajadah-sajadah permadani  fajar. Hampir tak pernah badan ini begitu keras menggenggam sebuah kenikmatan batin. Dalam relung-relung sunyi tenggelam kebisingan azan nan kian menggema dalam hiruk pikuk teriakan alam. Sejenak ku angkatkan tangan ini seraya kebesaran-Mu. Sebentar kudekapkan tangan ini dalam deraian doaku. Tak henti ku tundukkan pungguk kecil ini untuk bermunajat kepada-Mu. Hingga sebuah sujud tulus ku tundukkan diatas sajadah-sajadah permadani fajar.

Aku ini seorang bodoh, tak tahu jikalau Engkau selalu mengingatkanku bila  keburukanku sedang menjadi-jadi. Aku ini seorang buta, tak melihat ketika Engkau mempertunjukan secarik kecil hikmah yang ku anggap angin lalu. Aku ini seorang tuli, tak mendengar  tatkala Engkau membunyikan sirine kebaikan yang malahan ku abaikan. Aku ini seorang cacat, tak giat ketika Engkau menjamu ku dan aku terlelap dalam mimpiku. Aku ini seorang hina, tak mempedulikan tatkala Engkau dan para tetamu yang lain berlomba-lomba untuk rahmat-Mu.

Telah lama kejenuhan hidup berkubang dalam daging ini. sungguh tak pernah tersadari hingga saat ini begitu banyak kesalahan yang ku perbuat. Bila ini merupakan titik balik nadir dengan asa itu, maka luruskanlah ya Rabb. Bila ini merupakan setitik cahaya hati itu, maka luruskanlah ya Rabb. Bila ini merupakan segenggam hidayah itu, maka luruskanlah ya Rabb. Dan semoga dihari-hari nanti walau ku dengan sengaja menoleh, Engkau tetap memandangku.

Dan pada sajadah-sajadah permadani fajar ini ku helakan tiap nafas untuk doaku.. Ya Rabb.

Tulisan Sebelumnya »