
Ingin sekali ku bagi sebuah kisah kecil. Kisah pengalaman yang banyak memberikan pelajaran. Ku ambil sebuah ingatan dari dalam sangkar saraf ini untuk bisa di tilik lebih rinci agar mudah dibagi dan didengar.
Senja hari sejam sebelum lonceng SD mulai memecah udara panas, Ibu kepsek datang dengan genggaman tangan yang sedikit ganjil. Memegang sesuatu yang sangat-sangat asing bagi seorang anak pelosok yang jauh dari peradaban. Dipampangkan diatas meja, didepan mata anak-anak sekelas. Sebuah benda berwarna emas dengan pegangan segiempat gelap lurus berdiri tegak. Terlihat tulisan di bawah nya “Juara III Lomba Mengarang Tingkat Kecamatan”.
Mungkin dari dulu aku ini satu dari sekian orang yang merasa piala adalah benda antik dan sakral hingga melihat nya saja serasa merinding. Dua menit benda itu berdiri tegak diatas sebuah meja kecil. Benar saja hanya orang-orang sekeliling ku yang banyak mengeluarkan kalimat-kalimat yang entah aku benar-benar mendengarkannya atau tidak. Tapi tetap saja benda itu membuat ku diam kaku tak berkutik.
Ku coba menggubah kembali bagaimana benda itu bisa ada di tengah-tengah kami. Tepat sebulan yang lalu kuikuti sebuah ajang yang dulu dipanggil porseni antar sekolah dasar. Ku ikuti tahap-tahap regional rayon yang mungkin tanpa disadari waktu seorang ibu guru menunjuk ku sehari sebelum ajang itu dimulai. Alamak.. mendadak melongok tekejut, bisaku apa, menyelesaikan carpon pandawa bahasa sunda saja susahnya minta ampun sampai ku tanya-tanya ayah ku yang tahu betul kisah-kisah pewayangan.
Semalaman ku hanya semedi mencari wangsit di kamar yang penuh dengan poster-poster bola berharap petuah datang dari para maestro-maestro alam gaib penghuni kamar. Huh, dasar pikiranku yang dirasuki demam lomba, mengharap sesuatu hebat terjadi esok pagi. Ah.. Mudah-mudahan saja tiba-tiba porseni di undur, agar ku lebih siap tanya sana sini untuk apa yang mau dituliskan pada secarik lembar kertas dengan cap rayon itu. Ah.. mudah-mudahan saja tiba-tiba badanku demam, agar ku bisa ada alasan untuk tidak bisa mengikuti lomba itu karena sungguh ku tak lancar memikirkan sesuatu dan menuliskannya cepat-cepat dengan perbendaharaan kata yang ku tahu sedikit sekali. Ah.. mudah-mudahan saja tiba-tiba ada temanku yang rela menggantikanku karena menurutnya dia lebih lancar dalam hal tulis menulis. Tapi hari itu aku mungkin sial atau mungkin maestro-maestro alam gaib penghuni kamar ku pergi karena mendengar lantunan qira’at yang selalu Ibu perdengarkan setiap malam jumat. Tak ada harapan dalam benaku yang semalam ku pikirkan terwujud. Aku resmi sebagai duta sekolahku untuk mengikuti ajang itu, walau dengan sedikit pesimis.
Tahap pertama, penseleksian untuk duta rayon selatan sebagai perwakilan nanti di kecamatan. Dengan sedikit dukungan percaya diri, berangkat ku membawa sedikit bekal ilmu hanya untuk menuliskan sesuatu pada kertas polio bergaris nanti. Yah, pasrah saja. Terbalik memang, Apa yang dulu pernah diajarkan ustadz kepadaku tentang bagaimana kita menyikapi masalah, usaha, doa, tawakal a.k.a pasrah. Aku membalik urutan itu semena-mena, doa, walau dengan doa yang mengada-ada, pasrah, aku tak ingin menyebutnya tawakal karena malu, usaha, peristiwa yang sebentar lagi ku jalani. At least, tiba saat ku mulai memusingkan kepalaku untuk mencari kata-kata indah untuk bisa membahagiakan para juri yang menilai. Ada menu tema didepan papan tulis yang disediakan untuk dipilih buat makanan pagi. Ku liriki sebagian tema yang paling mudah untuk ku berikan pada otakku agar ia bisa bekerja sama dengan tangan yang semenjak tadi hanya kusilangkan diatas meja. Wah-wah.. cepat sekali orang yang ada dikanan-kiriku didepan-belakangku mengotori kertas polio itu. Sementara ku satu titik saja belum nempel. Ku ingat bulan itu adalah Agustus, yah.. ku tuliskan saja sebuah pengalamanku melihat kemeriahan perayaan 17-an yang selalu diadakan dikampungku sampai dua hari dua malam. Ku tuliskan saja ketika orang-orang dengan bertelanjang dada saling pungguk memungguk batang bambu besar dengan lumuran stemplet dari ujung tanah sampai ujung atas. Ku tuliskan saja ketika orang-orang dengan beribu macam hiasan sepeda berlalu santai dengan manik-manik merah dan putih. Ku tuliskan saja sepuluh bapak-bapak berbalut rok ibu-ibu bermain bola dengan perut-perut buncitnya. Maka kuambil tema yang paling-paling-paling mudah biar nggak ruwet ngejelimet.
Seminggu setelah itu kabar dari rayon itu muncul. Seorang bapak-bapak dengan memakai kopiah hitam ciri khas nya datang untuk memberi jabatan baru pada ku. Sekarang aku resmi naik pangkat setingkat jadi duta rayon selatan. Alamaaak… Tak dinyana doa jeleku kemarin benar-benar ngedrift 180′. Tulisan asal ku dianggap bak sajak pujangga yang dipuja-puja bagi para juri. Namun tugas kali ini cukup ada waktu buat bekal nanti dikecamatan. Setiap malam sejenak kuluangkan waktu makan, tidur dan main ku untuk mencoba berlatih menulis, practice makes perfect, tulisan kecil di tiap bawah halaman buku sinar dunia melecuti ku. Ku coba menerka-nerka tema apa yang pasti muncul nanti di hari H nya. Sok tahu ku memuncak menjadi-jadi menuntun jari-jari tangan ini meruntun kata demi kata yang mula hanya prakiraan belum sampai pada perkiraan dan probabibilitas. Waktu, kata, alur, hubungan paragraf ku hitung benar sampai sedetail-detail nya.
H-1, coba kembali membaca hasil karangan prakiraan yang kalau dibaca-baca cukup bagus juga kalau-kalau benar tema untuk karangan lomba nanti ekuivalen dengan tema hasil karangan prakiraanku. Sedari itu ku lagi-lagi semena-mena mengubah urutan penyikapan masalah yang di ajarkan ustadz kepadaku. Mudah-mudahan tema nanti benar-benar ekuivalen pintaku. Namun kali ini ada additional advice semilir di pikiranku yang entah datang darimana. Mungkin maestro-maestro penghuni alam gaib kamarku mulai berembuk untuk bisa memberi masukan yang tak masuk akal. Sepenggal saran itu ada di atas ubun-ubun, “Bawa saja secarik lembar karangan prakiraanmu kalau-kalau sesuai dengan tema-nya biar nanti kau tinggal buka dan menyalinnya”. Ku pertimbangkan sejenak dan ku taruh secarik karangan prakiraanku di lemari untuk nanti kuputuskan esok pagi di hari H.
Tahap selanjutnya, ku pergi ke balai kecamatan yang bersampingan dengan sebuah sekolah dasar dan lapangan sepak bola didepannya. Sekali lagi mental ku seperti biasanya selayak tahap pertama di rayon selatan. Tapi ada 2 hal yang menjadi kejanggalan disana, ku lihat kanan-kiri depan-belakang, semua peserta perempuan, hanya aku dan seorang yang berada dua bangku disamping kanan ku yang bergenre beda. Sementara satu hal yang menjadi runtut perhatian dari tadi, sebuah kalimat yang tak asing lagi, sepenggal kalimat tema yang masya Allah benar-benar ekuivalen dengan prakiraanku. Dari situ ada sedikit rasa sesal yang ditanamkan setan dari semenjak H-1 kemarin, secarik kertas karangan prakiraanku tak ku bawa karena lupa. Entah mungkin karena pagi tadi maestro-maestro alam gaib penghuni kamarku masih tertidur dan lupa mengingatkanku akan rencana tak masuk akalnya. Entah mungkin Karena ingatan yang ditanamkan para maestro itu semalam terputus dari saraf neuron karena salat ku, subuh tadi. Entah mungkin karena satu kata yang orang sering banyak menyebutnya, takdir, yang mengharuskanku tidak berbuat diluar batas. Maka ku andalkan setumpuk kemampuan saraf-saraf ku untuk membuka kembali memori ingatan karangan prakiraanku. Dan kuandalkan segenap jiwa dan raga karena kesempatan yang telah di berikan sang kuasa untuk kembali mengasah bakat yang lain kepadaku.
Tak lama kabar kembali muncul dan pangkat satu tingkat disematkan lagi kepadaku. Namun kali ini walau dengan kepercayaan diri yang lebih, ada sedikit ganjalan yang sedari awal memuncak di kepala. Seakan ingin tertawa tentang laga coret menyoret sewaktu itu, posisi satu-dua dipegang perempuan dan hanya ku yang bisa ada di podium ketiga. Hmm, seakan mungkin hanya bertarung berdua dengan orang yang duduk dua bangku di sebelah kananku. Karena duta hari ini memberikan opsi sepasang laki dan perempuan sebagai wakil dari kecamatan untuk kabupaten. Tapi toh, benda sakral itu sekarang sudah ada dilemari kecil menemani satu jenis nya yang sudah ada sejak dulu dengan ajang yang berbeda walau kedua-duanya bertuliskan III (tiga).
*****
Dari satu tetes pengalaman masa kecil ini ada sedikit gambaran besar tentang arti apa itu takdir. Sejauh apapun kita bisa mengubah dan mencoba melakukan sesuatu sekehendak hati. Setiap dari itu tak ada yang menyangka sesuatu berbeda dalam akhirnya. Meskipun frasa kebetulan dan keberuntungan, Kesengajaan dan kesialan tetap selalu terucap. Tapi dari setiap usaha yang dilakukan tak ada yang dikatakan kebetulan dan keberuntungan atau kesengajaan dan kesialan. Untuk setiap urutan penyikapan masalah yang diajarkan, usaha, doa dan tawakal, epilognya telah ditentukan oleh tangan sang kuasa.