Ode untuk siapa?

Begini, selalu ada cerita pada akhir. Tentang hal yang berbait-bait, tentang rindu yang berlarat-larat. Kemana kita akan melempar senyum jika tak kepada siapa kita meminta ranum. Secermin kita menatap diri tentang raga yang tiada.

Begini, jauh kita meminta tulus. Untuk suatu hilaf yang terucap, untuk setiap marah yang kalap. Kemana kita akan berujar bila tak kepada siapa kita bertatap. Tepat dititik mula kita berkata tentang makna yang tiada.

Begini, darimana berharap puji. Dari setiap cara kita berkelakar, dari serapal kita menatap langit. Kemana kita akan bertahmid kalau tak kepada siapa kita bertasbih. Semisal budak kepada tuannya, tentang bakti yang tiada.

Kami ini tak semampu untuk bertahta dari setiap nikmat yang dipunya. Tentang tawa,suka, rasa, masa dan asa. Semuanya kita yang pinta, lalu punah semata-mata, lainnya tiba tiada dikira. kepada siapa kita kan bertanya? Ode untuk siapa?

Melihat Bagaimana Cara Tuhan Menilai

Hari itu jum’at, awal bulan Mei. Pastilah waktu siang terik aku tergopoh-gopoh untuk pergi, barang sesaat untuk salat jumat saat itu. Cuacanya memang sangat akrab dengan matahari, debu dan angin. Logis memang dengan banyaknya pabrik-pabrik. Aku berada pada shaf agak belakang, sebatas paling depan dari batas suci untuk sandal di mesjid itu.

Aku duduk, dan khutbah dimulai. Khotibnya masih muda dengan peci hitam dan sorban putih dilingkar lehernya. Dengan suara yang lantang dan berapi-api dengan bijak berwashiyat untuk ketakwaan, itu rukun memang. Tema dimulai dengan sedikit menceritakan tentang problema masyarakat dan manusia pada umumnya.

Lalu dari setiap perbuatan manusia beliau analogikan dengan sebuah titik. Dari sebuah titik itu, mulai membuat garis lurus. Lalu ditengah-tengah garis lurus mau tak mau harus membuat simpangan, simpangan dua buah garis yang bertolak belakang, satu menuju kesisi sebelah satu lagi ke sisi sebelah yang lain. Ujung sisi itu lalu kembali bertemu pada suatu titik dan meneruskan membuat garis lurus hingga sampai pada suatu titik yang memberhentikannya.

Read more

kami punya ilmu tak senirwana

Dimana kita akan menyapa langit?? Lantas arah tak kunjung kita temukan…..
Seketika itu juga ciut nyali tak lantas jumawa…..
Kemana kita akan menderma ilmu?? Lantas bekal tak guna kita dapatkan…..
Terapung sejadi-jadi…. berlari sejadi-jadi…. mendaki sejadi-jadi…..
Dari seberapa ilmu……
Dari tiap langkah yang kita rapal…..
Sejatinya dari tiap orang kita pungut ilmu-ilmu sejuta hasta, nyatanya kita benar tak banyak tahu apa-apa, agar selalu belajar apa-apa…
Lantas apa yang kita derma??
Ah… hidup ini memang luar biasa….
Ah… kami punya ilmu tak senirwana….

Serenade Jalanan

Sekitar lima atau enam tahun yang lalu aku ingat, di sebuah bus jurusan Bandung-Cirebon. Tipikal bus-bus berkelas ekonomi, tak henti-hentinya orang-orang berlalu lalang, hilir mudik, naik-turun. Ini adalah opera kehidupan dalam sebuah panggung yang berjalan. Lakonnya adalah pedagang asongan, pengamen, aku dan penumpang-penumpang yang lain. Suasana sedang diambang batas terik. Celoteh-celoteh jajakan dagangan sudah tak beraturan, diluar skenario. Bila ada yang memberi ketenangan itu saat ini maka akan ku lakukan apapun untuknya.

Read more

a moment to remember

Ini bulan desember, bulan terakhir di tahun ke seperlima dari umurku dikota ini. Menghabiskan setiap aktivitas sampai malam hari adalah rutinitas. Melelahkan mata adalah rutinitas. Menjemukan pikiran adalah rutinitas. Duduk hingga berjam-jam adalah rutinitas.

Ini adalah euphoria pengenangan. Bagaimana waktu begitu cepat terlalui. Sebentar yang lalu kita baru mendengar cerita-cerita dari tiap tetua kita. Bagaimana mereka melalui tiap waktu-waktu dulu berusaha, meluruskan punggung untuk tetap bisa tengadah, menguatkan kaki untuk tetap bisa berdiri, meleluasakan pikiran untuk tetap bisa tersenyum. Kini sadar atau tanpa sadar, kita hendak dan sedang melaluinya.

Read more

Dulu memang bukan sekarang…


Adalah Pagi yang sejuknya selalu menentramkan tiap tarikan nafas, membangkitkan lembar-lembaran semangat , melapangkan setiap harapan.

Adalah Siang yang teriknya selalu mengeringatkan peluh, mengeriputkan punuk-punuk asa, merontokkan sendi-sendi jiwa yang kokoh menopang.

Adalah Malam yang dinginnya selalu memberikan pengilhaman membatin dalam hening, meleluasakan perenungan yang mendalam, merentakan penat yang teramat sangat, menundukan lelah yang payah.


Read more

Dialektika

Bergelar sulung bukan keinginanku de.. Belajar otodidak untuk sesuatu hal yang tak pernah diketahui. Semua hal-hal pertama yang perlu banyak penjelasan. Definisi-definisi perikehidupan yang rumit dan membosankan. Seperti halnya tentang bagaimana cara merangkak, berdiri, berjalan dan berlari. Atau hal mengenai tindak tanduk kita tentang persoalan.

Kau tahu de.. aku tak pernah meminta-minta pada Tuhan hal-ihwal bahwasanya dirahim sana biarlah kau duluan de.. aku yang kedua saja atau biarlah Tuhan melahirkan kita kembar saja. Nyatanya memang tidak seperti itu de, aku pertama kau yang kedua.

Read more

Tak semestinya tak apa..

When a moment comes along with your destiny, what would you do?

Aku seperti sering merenungi semisal-misal tindak-tanduk kita atas sesuatu tak semestinya. Lalu bertahap-tahap muncul sesal-sesal yang tak seperti biasanya .

Untuk rencana yang tak semestinya, misalnya.
Untuk keping logam yang tak semestinya, misalnya.
Untuk nilai ujian yang tak semestinya, misalnya.
Untuk keadaan yang tak semestinya, misalnya.
Untuk sakit yang tak semestinya, misalnya.
Untuk waktu yang tak semestinya, misalnya.
Atau untuk keinginan yang tak semestinya, misalnya.
Read more

Lipur-lipur lampu yang temaram..

Bagiku malam layaknya sebuah tempat. Angin dinginnya lemah-lemah semilir di sela-sela rongga ruang yang bernama ‘teduh’. Bagiku malam seperti seorang teman. Sunyi senyapnya lamat-lamat bersandar ditiap pundak-pundak yang bernama ‘karib’. Aku tak hendak menyela tiap lelah mata ini untuk sejenak menyeka beban yang berpunuk-punuk siang tadi. Aku lantas tak lekas bersandar kepala agar diri ini lebih dalam membatin dalam mimpi.

Read more

entalpi

Mengingat kisah masa-masa lalu memang membuat tiap-tiap diri kita sedikit autis. Kemarin-kemarin ini aku salat berjamaah di sebuah surau. Tak jauh dari tempat tinggal temanku , sebuah daerah yang hampir di setiap rumahnya tak memiliki halaman yang layak, cerminan wilayah pinggiran kota. Selesai salat seperti biasa, aku tak hendak dibilang orang yang kelakarnya seperti sebuah guyonan pantun, “habis gelap terbitlah terang, habis salat cepat-cepat pulang”. Aku duduk bersila sebentar, lalu menelaah tiap sudut-sudut surau dari satu sisi ke sisi lain. Didepan, disebuah mihrab surau itu persis aku kenal. Arsitekturnya, desainnya, lengkung sudut-sudutnya, pola kaligrafi yang terpampang di atasnya, persis sekali. Dan tepat di sekitar shaf-shaf depan dan belakang ada banyak anak-anak bersarung kotak-kotak dan kopiah hitam. Ada pula yang hendak mengambil Al-Qur’an atau yang sudah menggenggamnya erat-erat di depan dada. Mereka sembari becanda tipikal anak-anak, berjalan ke sebuah ruangan tepat disebelah surau itu. Aku seperti berada di sebuah tempat yang kukenali sejak dulu, sebuah situasi flash back yang juga melibatkanku didalamnya . Ini semacam déjà vu, atau semacam cerita kisah Hermione yang menggunakan kalung waktunya untuk kembali ke waktu kejadian dulu di penggalan film Harry Potter yang ku tonton dari DVD sewaan. Seperti itulah..

Read more

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.